Friday, January 9, 2009

MENYELAMATKAN PALESTINA

Oleh Asliani
Apa yang akan kita lakukan tatkala menyaksikan sebuah keluarga di bantai secara sporadis dan keji oleh perampok yang bersenjata dihadapan mata kita? Anggota keluarga tersebut ada yang sudah meninggal,tengah sekarat sementara para perampok itu terus menodongkan senjatanya seraya mengancam anggota keluarga lainnya. Tentu saja kita yang menyaksikan tanpa perlu menggelar rapat akan segera memberikan pertolongan. Ada beberapa pilihan yang dapat kita lakukan diantaranya memanggilkan ambulan untuk menolong anggota keluarga tersebut yang terluka, berteriak biadab terhadap rampok tersebut, namun tentu tindakan yang paling tepat adalah mengusir perampok tersebut dengan kekuatan atau memanggilkan polisi untuk menangkap mereka.

Bagaimana jika ilustrasi sederhana diatas kita bandingkan dengan apa yang dialami oleh saudara kita di Palestina? Hingga kini entitas Yahudi dengan ribuan tentaranya membombardir sejumlah kawasan dijalur Gaza dengan pesawat tempurnya secara brutal dan sporadis. Tidak puas dengan serangan udara, kini mereka sedang melakukan serangan darat terhadap saudara muslim kita disana. Hingga saat ini setidaknya serangan tersebut telah memakan hampir ribuan korban dan diperkirakan akan terus bertambah seiring gencarnya serangan dari Israel.Kenyataan ini tentu menyayat hati perasaan kita kaum muslimin, yang hingga kini hanya mampu menitikkan airmata, dan berdoa untuk keselamatan dan kemenangan mereka.

Warga Gaza menghadapi serangan tersebut dengan penuh keberanian. Mereka menyabung nyawa mereka dengan senang hati; ada yang menjadi syahid sementara ratusan bahkan ribuan telah terluka. Pesawat-pesawat musuh memasuki wilayah udara mereka dengan aman dan tenang, tanpa rasa takut sedikitpun, bahkan tanpa ada halangan dari jet tempur.

Hal demikian dikarenakan penguasa dinegeri kaum muslimin telah menetapkan “larangan bergerak” kepada pasukan dan pesawat dinegeri mereka. Pesawat tempur bak barang
pajangan dalam sebuah etalase. Akhirnya pesawat –pesawat yahudi itu itupun merasa tenang dan terbang dengan aman. Pesawat –pesawat itu membombardir manusia dan bebatuan dengan tetap aman dari setiap serangan dan bahaya.

Memang negara yang paling memungkinkan untuk menghentikan serangan Israel ini adalah sang master Amerika Serikat(AS). Negara yang sering mengklaim dirinya sang pembebas dan garda terdepan dalam melawan apa yang mereka katakan perang melawan teroris. Namun seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, Amerika serikat juga diam. Bahkan Presiden terpilih Barrack Obama yang banyak digadang akan cukup menolong umat Islam memilih bungkam. Kalau AS diam, berarti tindakan Israel direstui sang master:Negara kapitalis utama itu. Israel tidak akan pernah benar-benar membangkang kepada AS. Sebab AS-lah selama ini yang mem-back up Negara Israel dalam segala aspek:politik, senjata maupun dana. Israel merupakan Negara urutan pertama yang paling banyak menerima sumbangan AS.

Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dapat diharapkan sebagai juru damai dengan resolusinya tidak pernah mampu menyelesaikan konflik palestina-Israel yang telah terjadi bertahun-tahun . Demikian pula dengan pemimpin di negeri-negeri Arab.
Peristiwa ini setidaknya semakin memberikan kejelasan kepada kita bahwa persoalan palestina bukanlah milik palestina saja, melainkan masalah tersebut adalah salah satu diantara sekian banyak persoalan yang menimpa umat Islam. Adalah sebuah kenyataan ironi jika kita penguasa muslim utamanya dinegeri arab hanya memberikan bantuan kemanusiaan, kecaman padahal mereka dapat melakukan yang lebih dari itu.

Ini sekaligus membuktikan betapa hegemoni yang dilakukan oleh musuh Islam yang dikomandoi oleh Amerika serikat telah mencekeram di negeri kaum muslimin. Sesungguhnya melawan Israel bukanlah hanya sekedar melawan negara kecil dengan penduduk sedikit, tetapi melawan negara pencipta dan pendukung buta Israel,yakni amerika serikat. Sejatinya respon terhadap pembantaian gaza itu sudah jelas, tidak perlu membutuhkan rapat, pertemuan ataupun evaluasi. Respon ini juga tidak bergantung pada resolusi dari negara-negara yang telah yang telah mendirikan dan melindungi entitas Yahudi. Respon itu hanyalah dengan cara mengerahkan tentara untuk berperang dan menghimpun orang-orang yang mampu menjadi tentara.

Kini persatuan umat diserukan diberbagai belahan dunia untuk melawan Israel, disinilah kita dapat melihat urgensi adanya perjuangan untuk membangun institusi pemersatu umat Islam. yaitu khilafah Islam. Satu-satunya solusi yang berargumentasi syariat sekaligus rasional. Dengan keberadaan institusi ini maka seruan persatuan ummat Islam bukan lagi sekedar wacana. Khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah akan melindungi dan menyatukan umat, sekaligus memberikan solusi nyata bagi umat. Dengan khilafah, umat akan berada dalam satu rumah yang ditinggali bersama,dibawah satu komando dan satu sistem kehidupan.Khilafah tidak menegasikan adanya perbedaan namun khilafah akan merajut perbedaan ini menjadi sebuah harmoni yang indah. Hanya melalui kekuatan global, penjajahan global bisa dihadapi secara sepadan.

Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah kapan persatuan itu dapat di wujudkan? Tentu ini semua bergantung sejauh mana kesamaan persepsi dari para penguasa di negeri muslim terhadap urgensi persatuan tersebut. Selama mereka hanya memikirkan kepentingan pribadi, kolega dan kepentingan penjajah memang mustahil di wujudkan, oleh karena itu upaya untuk mengingatkan kepada segenap kaum muslimin dan para penguasa agar mereka menjadikan keridhoan Allah sebagai tujuan hidup dan memahami urgensi penerapan syariat Allah menjadi penting dan diperlukan. Dan memang kesediaan mereka menerima pemahaman Islam bukan hak manusia untuk menentukan melainkan atas ijin dari Allah. Oleh karena itu yang dapat kita lakukan adalah jangan pernah mengenal lelah untuk memahamkan umat dengan Islam yang kaffah, juga mendoakan akan tibanya kemuliaan bagi umat manusia dengan Islam. Karena hanya dengan penerapannya rahmat bagi seluruh alam akan terwujud dan kebahagiaan akhirat akan tercapai. Ingatlah wahai saudaraku Allah tidak menilai hasil dari upaya yang kita lakukan, melainkan sejauhmana kesungguhan upaya dan keikhlasan kita dalam berjuang.
Wallahu’alam

Thursday, January 1, 2009

HIJRAH DAN PERSATUAN UMAT ISLAM

Oleh Asliani
Ummat Islam adalah ummat yang memiliki Tuhan yang satu yaitu Allahu Rabbil ’alamin dan memiliki pedoman hidup yang satu yaitu Al-Quranul karim,juga kiblat yang satu yaitu Baitullah.Saat menjalankan salah satu rukun ibadah haji yaitu wukuf di padang Arafah, mereka berada ditempat yang satu. Kesatuan dalam realitas ibadah tersebut setidaknya memberikan hikmah kepada kita bahwa bersatunya umat Islam adalah penting serta niscaya bagi umat Islam.
Kita mungkin bersepakat bahwa persatuan adalah keperluan sangat penting bagi ummat manusia sepanjang massa. Manusia sejak dulu mengetahui bahwa lewat kebersamaan, banyak sekali pekerjaan yang bisa terselesaikan secara lebih baik. Bahkan ada beberapa permasalahan sosial yang hanya akan bisa terselesaikan jika anggota masyarakat bersatu. Sejarah menunjukkan, berbagai peradaban yang besar hanya bisa tercipta lewat kebersamaan para anggota masyarakatnya. Ketika kebersamaan itu hilang, pada saat itu pula peradaban tersebut mulai kehilangan pamor dan akhirnya runtuh.
Tidaklah mengherankan mereka yang telah menyadari akan pentingnya persatuan mulai melakukan aliansi sebutlah negara seperti uni-eropa juga negara-negara di Amerika Selatan yang mulai membentuk Lembaga Keuangan bersama. Nampaknya mereka sangat menyadari kebersamaan adalah hal yang penting untuk mencapai kemajuan dan memenangkan pertarungan ideologi.
Berbeda realitasnya dengan umat Islam yang kini telah terpecah belah disekat oleh batasan-batasan state dan fanatisme terhadap berbagai aliran. Oleh karenanya tidak jarang jika saat inii kita dapati kaum muslimin disebuah negeri yang merasa aneh jika harus memikirkan keadaan kaum muslimin dinegeri lain dikarenakan berada pada wilayah yang berbeda.”mengapa sih kita harus memikirkan nasib masyarakat palestina? Wong masyarakat di negeri kita aja belum sejahtera..”ungkapan demikian mungkin tidak jarang kita temukan pada segelintir orang yang mengaku muslim. Tentu tak jarang juga kita temukan kaum muslimin yang satu enggan menolong saudaranya sesama muslim di karenakan berbeda mazhab ataupun organisasi massa. Bahkan tidak jarang terjadi konflik horizontal antara penganut mazhab.
Padahal Allah Swt telah mengingatkan dalam firmannya: Berpegang teguhlah kalian dengan tali(agama )Allah dan janganlah kalian bercerai berai. Dan janganlah kalian bercerai berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan hingga Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kallian mendapat petunjuk ( QS.Ali Imran[3]:103)
Ibnu katsir menyatakan bahwa tali Allah (hablullah) adalah Al-Quran yang diturunkan dari langit ke bumi. Siapa pun yang berpegang teguh pada al-Quran berarti ia berpegang pada jalan lurus. Sementara itu, ayat tersebut merupakan perintah Allah Swt untuk berpegang kepada al-jamaah dan melarang mereka dari tafarruq (bercerai berai).Dari sini terang sekali bahwa Allah Swt. Memerintahkan para hamba-Nya bersatu di atas aqidah Islam yang sumber rujukan utamanya adalah Al-Quran.
Sabda Rasulullah SAW:”Sungguh Allah telah menghilangkan dari dirimu kebanggaan dan kesombongan pada masa jahiliah dan pemujaan terhadap nenek moyang. Saat ini, ada dua macam manusia, yaitu orang-orang yang percaya yang senantiasa berbuat kesalahan. Kalian semua adalah anak cucu Adam dan Adam tercipta dari tanah. Manusia harus meninggalkan kebanggaan mereka terhadap bangsa mereka karena hal itu merupakan bahan bakar api neraka. Jika mereka tidak menghentikan semua maka Alah akan menganggap mereka lebih rendah dari cacing tanah yang menyusupkan dirinya sendiri kedalam limbah kotoran” (HR. Abu Dawud dan at-Turmuzi)
Ayat dan hadits diatas menjelaskan kepada kita tentang wajibnya persatuan bagi umat Islam dan adanya celaan dari Rasulullah terhadap mereka yang memiliki semangat golonganisme termasuk didalamnya sukuisme. Sehingga karena berbangga-bangga dengan sukunya, golongan ataupun bangsanya menyebabkan mereka menghina bahkan menyakiti sesama manusia apalagi sesama muslim.
Tidaklah mengherankan karena menekankan pentingnya persatuan umat Islam maka langkah pertama yang diambil oleh Rasulullah saat Hijrah untuk mendirikan masyarakat Islam yang pertama adalah mempersaudarakan antara kabilah dari muhajirin dan kabilah dari bani anshar.Rasulullah sangat menyadari bahwa stabilitas masyarakat menjadi syarat mutlak dalam memelihara keberlangsungan peradaban. Mengupayakan kesatuan ummat ini kemudian diteruskan oleh sahabat beliau dan para khalifahnya. Sejarah telah menunjukkan Islam muncul menjadi cahaya peradaban manakala umatnya bersatu-padu. Ketika mereka bercerai-berai, pada saat itulah ummat Islam menjadi kelompok masyarakat yang sangat lemah.
Sabda Rasulullah saw “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih-sayang dan ikatan emosional ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, mengakibatkan seluruh anggota tidak dapat istirahat dan sakit panas.” [HR. Bukhari]
Lalu mengapa ummat Islam menjadi terpecah belah seperti sekarang ini? Berbagai kajian menunjukkan bahwa masalah problem ini muncul karena adanya dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah penjajahan dunia Barat terhadap kaum muslimin. Hingga saat ini para imperialis Barat selalu mengejar ambisi yaitu menguasai dan mengekspoitasi sumber-sumber alam yang sangat kaya di negeri-negeri muslim. Demi meraih ambisi tersebut, mereka berusaha memperlemah kaum muslimin dengan menciptakan perpecahan. Dengan lemahnya muslimin maka mereka akan dengan mudah mencapai tujuan-tujuan ilegal mereka, sementara umat muslimin tersibukkan dengan perpecahan di antara mereka sendiri dan tidak pernah mampu berbuat apa pun menghadapi musuh bersama. Seperti yang saat ini kita lihat menimpa kaum muslimin di Irak, palestina ,afganistan dll.
Barat sangat menyadari jika kaum muslimin bersatu sebagaimana yang telah terjadi dimasa lalu akan menjadi negara yang sangat kuat. Karena itu, mereka sangat berkepentingan agar negeri-negeri Islam tidak pernah bersatu sampai kapanpun. Bahkan negeri kaum muslimin diadu domba untuk memisahkan diri.
Faktor yang kedua yang menjadi penyebab umat Islam terpecah belah adalah faktor internal. pertama lemahnya pemikiran umat Islam terhadap ajaran Islam itu sendiri, yang kedua umat Islam tidak memiliki institusi pemersatu umat. Lemahnya pemikiran umat ini berbanding terbalik dengan adanya serangan dan dominasi pemikiran sekulerisme, liberalisme dan pluralisme. Lemahnya pemahaman umat terhadap Islam membuat mereka tidak terbiasa melihat segala sesuatu dari sudut pandang Islam, sehingga tidak mampu menimbang mana pemikiran yang benar dan mana yang keliru. Islam tidak lagi dijadikan solusi. Bahkan tatkala berkampanye untuk mendapatkan kekuasaan tak jarang Islam hanya dijadikan pemanis untuk memikat pemilih. Akibatnya pemikiran Islam menjadi semakin kabur dan dominasi pemikiran barat dapat dengan mudah masuk kedalam benak kaum muslimin .
Tidaklah mengherankan lemahnya pemahaman mereka terhadap Islam membuat kaum muslimin mudah diadu domba. Muslim yang satu, tidak peduli bahkan cenderung untuk tidak merasa berdosa tatkala menyakiti kaum muslimin yang lain dengan alasan yang terdengar sangat klise entah karena berbeda mazhab, partai ataupun berbeda negara.
Oleh karena itu dalam momentum hijriyah kali ini seyogyanya kaum muslimin bahu membahu untuk mewujudkan Persatuan umat sebagaimana yang contohkan oleh Baginda Rasul. Namun upaya persatuan bukan berarti kaum muslimin harus bertoleransi dengan pemikiran yang notabene bertentangan dengan ideologi Islam. Pemikiran yang berbahaya justru harus disampaikan agar umat tak mengadopsinya karena mengadopsi pemikiran yang bertentangan dengan aqidah Islam akan mengaburkan wajah Islam itu sendiri. Dan menceburkan umat manusia dalam kekeliruan. Bersatu bukan pula berarti berada dalam mazhab yang sama,ormas yang sama ataupun gerakan dakwah yang sama.Perbedaan diantara kaum muslimin selama bukan dalam masalah aqidah adalah wajar. Karena memang karakteristik syariat Islam meniscayakan adanya perbedaan tersebut. Perbedaan dalam tataran furu’ bukan disikapi dengan celaan dan upaya saling menjatuhkan.
Sikap saling tolong menolong dan nasehat menasehati diatas kebenaran dan kesabaran terhadap sesama haruslah menjadi bagian dari gaya hidup muslim. Menghilangkan sekat-sekat perbedaan bukan berarti hanya sekedar membentuk ikatan ruhiyah melainkan menancapkan ikatan pemahaman yang bersifat ideologis yang bersumber dari aqidah Islam kepada umat Islam. Karena memang umat Islam disatukan oleh kesamaan aqidah. Selama berada dalam aqidah yang satu tidak sepatutnya kaum muslimin saling berpecah belah.
Persatuan hakiki memang harus dibentuk dan diperjuangkan. Sejatinya persatuan ini harus berlandaskan kepada ideologi dan memiliki otoritas politik bagi umat. Mampu menyatukan umat, sekaligus memberikan solusi nyata bagi umat. Maka tidak ada ikatan lain yang harus diwujudkan selain institusi daulah khilafah. Satu-satunya solusi yang berargumentasi syariat sekaligus rasional. Dengan khilafah, umat akan berada dalam satu rumah rumah yang ditinggali bersama,dibawah satu komando dan satu sistem kehidupan.Khilafah tidak menegasikan adanya perbedaan namun khilafah akan merajut perbedaan ini menjadi sebuah harmoni yang indah.
Menegakkan khilafah memang bukan pekerjaan yang mudah, perlu banyak energi dan pengorbanan yang diberikan. Akan tetapi sebagaimana pepatah mengatakan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, lantas alasan apa yang membuat umat ini tidak mau bersatu?

Monday, December 22, 2008

REPORTASE KONFERENSI MUSLIMAH KALIMANTAN AHAD, 14 DESEMBER 2008 DI HIMALAYA BALL ROOM HOTEL BANJARMASIN INTERNASIONAL

Subhanallah lambaian liwa dan roya serta kumandang takbir membahana memenuhi Himalaya Ball Room Hotel Banjarmasin Internasional tempat diselenggarakannya Konferensi Muslimah Kalimantan pada hari Minggu (14/12). Konferensi ini dihadiri sekitar 650 akademisi, mahasiswa, pelajar, tokoh masyarakat dan anggota legislative muslimah. Mereka datang dari berbagai kota di seluruh Kalimantan. Mereka tampak sangat antusias dan penuh semangat mengikuti konferensi ini mengambil tema “Selamatkan Kekayaan Alam Kalimantan, Cegah Disintegrasi Bangsa, Bangun Bangsa Besar dengan Khilafah Islamiyah”.
Konferensi ini menghadirkan pembicara dari kalangan intelektual diantaranya Prof. Dr.Hj Eny Rochaida, SE, M.Si (guru besar Universitas Mulawarman dan Direktur Program Magister Ekonomi Universitas Mulawarman), Nur Ubaini Hasibuan (Muslimah HTI Kalimantan Tengah), Ir.Hj. Ishmah Cholil (DPP Muslimah HTI ) dan Zidny Sa’adah (DPP Muslimah HTI).
Dalam makalahnya yang berjudul Sumber Daya Energi dan Pembangunan di Kalimantan Timur, Eny Rochaida memaparkan potret kesuksesan ekonomi Kalimatan Timur. Karena kekayaan yang luar biasa membuat Kaltim terkenal sebagai salah satu provinsi penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Namun ternyata sebagian besar rakyatnya tidak dapat menikmatinya. Hal ini dibuktikan dengan masih rendahnya angka indikator kesejahteraan rakyat. Kaltim juga masih menghadapi persoalan pengangguran, kesehatan, rendahnya pendidikan dan keterampilan bahkan menurunnya kualitas lahan akibat ekploitasi. Sehingga diperlukan berbagai kebijakan yang arif agar masyarakat dapat menikmati pembangunan.
Sedangkan pembicara kedua, Nur Ubaini Hasibuan menyampaikan makalah yang berjudul Ancaman Disintegrasi di balik Desentralisasi. Ubaini menggambarkan adanya ancaman disintegrasi yang sarat dengan kepentingan-kepentingan asing. Imperialisme gaya baru ini dilakukan melalui penguasaan terhadap kekayaan alam Kalimantan dan menciptakan konflik diantara kelompok rakyat. Ubaini juga menyerukan kepada intelektual muslimah untuk waspada terhadap makar asing untuk memecah belah bangsa dan menjaga Kalimantan dengan menerapkan sistem Syariah dan Khilafah.
Sementara itu Ishmah Cholil dengan jelas menggambarkan sisi praktis mekanisme kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam oleh Khilafah Islamiyah. Dengan menerapkan sistem Khilafah Islamiyah maka akan membawa kesejahteraan, kemandirian dan kemajuan rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Apakah muslim atau non muslim, baik laki-laki atau perempuan.
Zidny Sa’adah sebagai pembicara terakhir menyampaikan seruan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia kepada seluruh intelektual muslimah untuk bergabung dengan arus perjuangan dakwah yang meneladani Rasulullah untuk menegakkan syariah dan khilafah, mengajak para intelektual untuk mempersiapkan peraturan-peraturan teknis ketika Khilafah berdiri nanti, dan berdiri di garda terdepan dalam perjuangan untuk menerapkan ideologi Islam mewujudkan Indonesia Besar, Kuat dan Terdepan dalam Nauangan Khilafah Islamiyah.
Sebelum sesi konferensi, diawali dengan penampilan 3 orator. Orator pertama, Ir. Lusita Wardhani MP (Praktisi Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat ) menyampaikan orasi berjudul “Intelektual Kalimantan ; Pemimpin dan Pemersatu Umat”. Sedangkan Dr. Rini Hustiani, STP, MP (Praktisi Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat) menyampaikan orasi berjudul “Membangun Kalimantan ; menuju Indonesia sebagai Bangsa Besar, Kuat dan Terdepan dengan Kedaulatan Islam”. Orasi terakhir disampaikan Widyastusti, M.Si (Praktisi Pendidikan Universitas Airlangga) dengan judul “Kalimantan ; Lumbung Dunia”.
Dalam kesempatan ini, peserta juga menyaksikan video “Negeri yang Ironis”, “Krisis Financial Global” dan beberapa agenda/aksi yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir di berbagai penjuru dunia.
Konferensi ini juga dimeriahkan dengan hiburan khas “Banjar” yakni seni madihin dan aksi teatrikal oleh remaja muslimah yang mampu menyedot perhatian peserta. Teatrikal ini menggambarkan kondisi penjajahan baru melalui eksploitasi sumber daya alam berikut solusinya. Dalam pagelarannya aksi ini mampu membangkitkan kesadaran peserta akan problematika besar umat Islam yakni tiada kesatuan Politik Islam dan rasa optimisme akan kembalinya kejayaan Islam. Teatrikal ini diakhiri dengan applaus meriah dan sajian nasyid Laizzata Illa bil Islam.
Kegiatan ini juga disiarkan secara khusus oleh stasiun TVRI Kalsel pada keesokan harinya, Senin (15/12) pukul 20.30-21.30 wita. (Dini MHTI/Bjm)

Sunday, December 21, 2008

DEMOKRASI: SEBUAH PARADOKS

Oleh: Harmiyani S.Pd
Pemilu yang ke-3 kalinya dalam era reformasi akan segera dilaksanakan. Revitalisasi demokrasi menjadi semangat yang mendasari pemilu kali ini. Seperti yang diyakini banyak orang, baik awam maupun intelektual, berpendapat pemilu adalah salah satu wujud demokrasi. Pemilu adalah pesta demokrasi. Dalam persfektif demokrasi melalui mekanisme pemilu rakyat menentukan pemerintahan dan jalannya pemerintahan berdasarkan aspirasi mereka. Oleh karenanya Pemilu merupakan sarana wajib untuk mewujudkan kekuasaan dan kedaulatan rakyat.

Dalam proses demokrasi yang dikatakan sedang berjalan ini banyak pujian bahkan penghargaan diberikan oleh Negara barat pada Indonesia. Demokrasipun di persepsikan sebagai sistem final/hasil akhir pencarian manusia dan diopinikan sebagai sistem terbaik/ideal untuk masyarakat modern. Namun tentunya klaim ini perlu kita periksa.

Demokrasi tidak bisa dipisahkan dari money politics atau politik uang. Memang ada dalih tentang money politics yaitu membedakannya menjadi 2 macam. Pertama, politik uang dimana uang dipergunakan untuk suap. Dan yang kedua adalah money politic dimana uang adalah modal dipergunakan untuk membiayai atau mendanai kegiatan politik (financing politics). Money politics yang pertama jelas merupakan perbuatan yang salah dan melanggar hukum. Sedangkan financing politic adalah suatu yang wajar dan sah-sah saja. Demikianlah pandangan politik demokrasi.
Terlepas dari pembedaan tersebut, yang jelas dalam pemilu dan demokrasi kekuatan uang menjadi sangat menentukan dan segala-galanya. Apa konsekuensi dari kenyataan ini?

Kehidupan politik sejatinya adalah untuk mewujudkan idealisme bagi masyarakat dan Negara. Namun dalam prakteknya politik adalah untuk mempengaruhi dan menggiring pilihan dan opini masyarakat dengan segala cara. Sehingga, seseorang dan sekelompok orang bisa meraih kekuasaan dengan pilihan dan opini masyarakat yang berhasil di bangunnya atau dipengaruhinya. Ini memerlukan modal atau dukungan pemilik modal. Sehingga wajar jika seseorang dan partai perlu mengarahkan dana yang tidak sedikit. Konon untuk mendapatkan kesempatan menjadi caleg parpol tertentu seseorang harus merogoh uang sekitar 500 juta rupiah yang disumbangkan kepada partai.

Di negeri tempat lahirnya demokrasi, Amerika Serikat selalu mencetak rekor dana kampanye terbesar. Untuk biaya kampanye obama saja hampir menyentuh angka fantastis yaitu satu triliun dolar AS (tribun-timur.com.19/10/08)
Fakta itu juga berlaku di Indonesia, sebuah partai atau seorang kandidat harus berkampanye dan melakukan berbagai aktifitas untuk membangun citra, popularitas dan simpati masyarakat. Hal demikian jelas memerlukan dana yang tidak sedikit. Apalagi masyarakat di negeri ini bukanlah masyarakat yang ideologis oleh karena itu politik “pencitraan “ dianggap penting dan perlu tidaklah mengherankan jika kerap saat ini melihat banyak tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak kita kenal mulai bermunculan mengiklankan dirinya. .

Politik demokrasi memang memerlukan biaya yang sangat besar cobalah kita menghitung di negeri ini setidaknya dilaksanakan 500 kali Pemilu dalam 5 tahun. Dapatkah kita membayangkan betapa besar dana yang akan di keluarkan, mulai dari persiapan, kampanye hingga pelaksanaan pemilu yang hasilnya tidak selalu signifikan dengan kesejahteraan rakyat.

Pemilu menjelma menjadi ajang pertaruhan yang besar. Namun sangat sulit untuk mengharapkan ketulusan dan ketidakpamrihan dari investasi dan resiko yang ditanggung politisi. Tidak ada makan siang yang gratis. Politisi yang menang tentu akan membalas jasa orang-orang yang memiliki ”Saham” atas kemenangannya. Dan yang menjadi prioritas adalah dirinya, keluarganya, kolega dan penyumbang dana kampanye. Politisi berusaha menyenangkan semua pihak yang mendukungnya selama ia menduduki jabatan. Dalam perkara ekonomi, politisi akan mengeluarkan kebijakan yang menjaga kepentingan bisnis para pengusaha. Lalu bagaimana dengan rakyat ? Rakyat kebanyakan akan menjadi penonton dan subyek yang kecewa karena hanya dimanfaatkan sesaat untuk memberikan suaranya di pemilu setelah hati dan pikirannya dimanipulasi sedemikian rupa dengan citra dan janji-janji manis yang palsu. Jadi jika kita lihat realitanya demokrasi adalah dari uang untuk uang dan oleh uang.

Kenyataan demikian membuat pemerintah yang terpilih sulit melakukan Public Service Obligation (PSO) dalam bidang pendidikan dan kesehatan secara maksimal. Karena jika pemerintah melakukan kewajibannya melayani public, maka akan banyak perusahaan di bidang kesehatan dan pendidikan yang akan mati bisnisnya. Sebagai contoh: perusahaan farmasi, pebisnis rumah sakit, pebisnis sekolah, pebisnis belajar, perusahaan penerbitan buku pelajaran, dan perusahaan-perusahaan asuransi kesehatan dan pendidikan akan bangkrut. Rakyatpun terpaksa tetap harus menanggung biaya yang mahal atau pajak yang tinggi.

Di sisi lain kekayaan umat dikuasai oleh segelintir orang yang tidak lain adalah para pemegang saham politik. Sehingga Sumber daya seperti laut, sungai, hutan, sumber daya energi dan mineral dikuasai sekelompok individu. Kebijakan privatisasi, divertasi, Penerimaan Modal Asing (PMA) dan berbagai pemberian konsesi dan kontrak kerja membuat jalan penguasaan oleh swasta begitu mulus dan tidak dirasakan umat kerugiannya. Semua fakta tersebut merupakan konsekwensi dari penerapan demokrasi yang telah menjadi sebuah industri, ajang investasi dan balik modal (return of investment)

Demokrasi juga menyimpan paradoks Apa yang menimpa FIS, partai Islam di Aljazair, yang berhasil menang pemilu secara demokratis di sana dibungkam hanya karena FIS ingin menerapkan syariah dan tujuan ini dikatakan bertentangan dengan demokrasi. Apa yang menimpa HAMAS di Palestina sekarang ini juga hampir sama. Meskipun menang secara demokratis, pemerintah HAMAS dilemahkan karena tidak sejalan dengan kepentingan Barat. Di Perancis, jilbab dilarang karena dianggap mengancam sekulerisme. Invasi AS ke Irak yang tidak beralasan dan memiliki bukti yang cukup pun dianggap sah meskipun mayoritas manusia tidak menginginkannya. Kasus penghinaan terhadap Rasulullah dianggap sebagai salah satu perilaku kebebasan berekspresi.Untuk kasus negeri ini mayoritas muslim yang menolak kenaikan BBM tidak digubris termasuk juga penolakan pornografi dan pornoaksi. Oleh karena itu klaim kebebasan dalam demokrasi hanyalah kebebasan semu yang digunakan oleh negara Barat dan kelompok sekuler untuk kepentingannya sendiri.
Memang benar pada beberapa negeri yang menerapkan demokrasi terdapat kemajuan namun pada saat yang bersamaan umat menuju kepada kehancuran. Demokrasi bukanlah sistem yang terbaik. Akan tetapi manusia memerlukan sistem hukum terbaik yaitu sistem yang berasal dari Allah dan menerapkan syariat Allah.melalui sistem khilafah . “Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”.
Wallahu alam bis Shawab.
Penulis adalah aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.

Sunday, September 28, 2008

SUDAHKAH KITA BERTAQWA?

Perputaran titik waktu menuju momentum Ramadhan adalah sangat istimewa bagi setiap muslim karena sebagaimana yang dikhutbahkan oleh Rasulullah saw pada bulan itu Allah swt akan menaungi kaum muslim dengan segala keagungan dan keberkahan. Begitu banyak bonus pahala yang Allah swt tebarkan di bulan ini. Tidak cukup berhenti di situ, pada bulan ini juga terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam lailatul Qadr. Wajarlah jika kemudian kaum muslimin menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita dan menghiasinya dengan serangkaian aktivitas yang bernilai ibadah.

Dan kini kita telah berada dititik-titik terakhir pada momen kemuliaan bulan ini. Para shahabat di masa Rasulullah saw yang merupakan generasi terbaik dan patut untuk diteladani, selalu merasa sedih bahkan menangis ketika mereka akan berpisah dengan bulan Ramadhan. Karena harus berpisah dengan bulan ampunan, bulan yang penuh dengan rahmat,kemuliaan dan keberkahan , berpisah dengan momen terindah berupa kelezatan ibadah di bulan ini. Sehingga merekapun selalu berharap dan berdoa agar dapat bertemu dengan Ramadhan ditahun berikutnya. Mereka sangat memahami akan sabda Rasulullah saw yang mengatakan bahwa seandainya seorang Muslim mengetahui rahasia keagungan/keutamaan bulan Ramadhan, ia pasti akan meminta kepada Allah agar sepanjang tahun dijadikan bulan Ramadhan.

Namun tidak sedikit kaum muslimin pada masa kini yang justru merasa gembira di tinggal bulan Ramadhan karena merasa telah terbebas dari ”belenggu Ramadhan”. Karena mungkin selama Ramadhan ia tidak bebas membuka aurat di tempat umum, tidak bebas berlenggak-lenggok di atas panggung, tidak bebas pacaran, tidak bebas berbohong, tidak bebas korupsi dan tidak bebas dalam melakukan kemaksiatan lainnya. Naudzubillah.

Melalui lisan mulia Rasulullah saw, Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa mereka yang menunaikan ibadah puasa secara benar selama bulan Ramadhan akan terlahir kembali seperti bayi yang tidak berdosa kembali suci. Sehingga hanya mereka yang telah berpuasa secara benar sajalah yang layak untuk bergembira dan meraih hari kemenangan yakni Idul Fitri yang berarti kembali fitrah. Artinya kegembiraan bakda Ramadhan bukanlah karena bebasnya kita dari Ramadhan melainkan gembira karena ibadah puasa yang telah dijalaninya dengan baik dan benar yang membuat ketaatannya pada Allah semakin bertambah.

Penting untuk kita renungkan bersama, sudahkah diri kita, keluarga kita bahkan masyarakat muslim bangsa ini berpuasa secara benar sehingga layak untuk meraih kemenangan?Seperti apakah gambaran mereka yang telah berpuasa secara benar itu?Allah swt telah berfirman dalam Al-Baqarah 183 bahwa Disyariatkannya puasa Ramadhan adalah agar dapat mencapai derajat Taqwa. Dengan kata lain mereka yang telah berpuasa dengan benar di cirikan dengan mereka yang telah mendapat buah dari puasa ramadhan yaitu taqwa.

Adapun ciri daripada orang yang bertaqwa sebagaimana yang dikatakan Imam Hasan Bashri bahwa orang yang bertaqwa berarti takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan Allah.Menjaga benar-benar perintah dan menjauhi larangan. Imam Ibnu katsir mencirikannya dengan menukil sabda Rasulullah saw: ”Seorang hamba tidak dapat mencapai kedudukan muttaqin kecuali jika dia telah meninggalkan perkara-perkara mubah lantaran khawatir terjerumus kedalam dosa” (HRTirmidzi dan Ibnu Majah, )
Orang yang bertawa sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 4 adalah mereka yang beriman kepada Kitabullah dan meyakini akan adanya negeri akhirat. Yaitu mereka yang menjadikan Al-Quran sebagai tuntunan hidup dan mengutamakan kehidupan akhirat dengan menundukkan hawa nafsu mereka dalam kehidupan dunia .

Jika orang yang bertaqwa dicirikan demikian lantas apakah kita bahkan bangsa kita yang mayoritas muslim ini telah memenuhi kriteria tersebut?Sudahkah ada dalam diri kita keluarga kita dan bangsa kita ketaatan yang total kepada Allah tanpa ada keraguan sedikitpun didalam hatinya untuk menjalankan Islam secara kaffah, bukan hanya dalam masalah akhlak semata melainkan secara total baik dalam masalah keimanan(akidah) maupun syariat; seperti hukum tentang ibadah, makanan, minuman, berpakaian,sosial kemasyarakatan, politik, ekonomi, budaya, pemerintahan dan lain sebagainya secara ikhlas dan tawakkal?

Ataukah kita justru enggan untuk disebut sebagai makhluk dan bangsa yang bertaqwa?Kita hanya mau mengamalkan perintah Allah yang sesuai dengan selera kita saja. Jangankan menerapkan hukum Allah secara totalitas menerapkan perda bernuansa syariahpun tidak jarang kaum muslimin seperti dibayangi ketakutan bahkan cenderung memberikan stigma negatif. Astagfirullah.

Jika Ramadhan mendidik kita untuk menundukkan hawa nafsu dan mementingkan kehidupan akhirat,lantas kepada siapakah ketundukan dan ketakutan kita selama ini?Apakah kita maupun bangsa ini lebih tunduk kepada perintah Allah ataukah justru lebih cenderung tunduk kepada kepentingan negara asing yang benci kepada tegaknya hukum-hukum Allah?

Jika Ramadhan dikatan Syahrul Quran dan diyakini Al-Quran sebagai pedoman hidup, sudahkan Al-Quran kita jadikan sumber hukum atas segala persoalan yang menimpa manusia di negeri ini baik persoalan individu maupun persoalan bermasyarakat dan bernegara ? Atau justru kita sudah menganngap bahwa aturan Allah yang termaktub dalam Al-Quran sudah tidak relevan lagi dengan realitas kekinian sehingga perlu ditafsir ulang agar sesuai dengan selera hawa nafsu kita?

Marilah kita bersama instropeksi diri. Berhati-hatilah kita agar tidak termasuk dalam golongan mereka yang dalam sabda nabi saw dikatakan”Betapa banyak mereka yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa melainkan lapar dan haus semata”.(wallahu’alam)